Kamis, 05 Januari 2012

CERPEN Edisi 45 B

Si PENGEMBALA
Cerita Fiksi ‘ainur ibrahim’ XI IPA I *(
*di muat di bulettin el-Insyaet Madrasah NU TBS Kudus dengan halaman yang pas!




Dia saudaraku, juga sahabatku. Ketika usianya menjelang aqil baligh, nama Bondan lebih mashur daripada nama kecilnya; Salman Ibrahim. Tidak! Karena tepat pada tahun kelima setelahnya, nama Bondan hanya bisa dikenang. Sedang nama Salman Ibrahim lah yang harus dituliskan dalam nisan. Wajib! Tidak bisa tidak!
Dewasa itu, aku dan Salman bagai sepasang anak turun adam yang memadu kasih. Hanya aku dan Salman. Para Pakdhe dan Budhe sibuk mengurus nafsu duniawinya. Tak terkecuali dengan keluargaku. Aku tahu, jika tanpa uang mereka tak bisa menyuapkan nasi pada kami -anaknya, tapi aku yakin mereka lebih tahu jika anak juga butuh perhatian lebih dari mereka. Ku kira itu lebih baik di zaman ini, daripada orang seperti aku dan Salman salah pergaulan.
Benar! Sore itu, aku melihat Salman terbirit-birit mengepal separuh dari bagian bawah kaosnya. Lembaran rupiah bergambar Sultan Mahmud Badaruddin terserak di lantai ketika aku tanya “Sedang apa kau disini?” Salman gugup dan terbata-bata mengucapkan kata. Aku tak butuh jawabnya karena aku sudah tahu jawabanya, tapi “untuk apa uang sebanyak itu?” Salman tak menjawab, secepat mungkin ia menata rupiah hasil jarahannya dan berlalu meninggalkanku.
Namun Kiamat! Ayahnya terlebih dahulu memanggil Salman dengan raut muka yang tegas. Dihadapanku, Lelaki pensiunan AKABRI itu menyodorkan lima lembar ribuan dan segera menggelorakan Salman untuk membeli obat sakit gigi. Ku lihat muka Salman seperti baru saja bebas dari Neraka. “huhmmm..” Aku sengaja tak berprakata. Aku hanya tersenyum kecil melihatnya.
***
“Kau Munafik! Kau bilang padaku jika mencuri itu dosa! Jika mencuri akan mencicipi Neraka, namun mengapa kau melakukannya...? apa kau sudah cukup tabungan surga? Hm? Apalagi itu duit orang tuamu mas! Belum lagi jika Ayahmu tahu, matilah kau! Ingat mas, ingat! Aku tak peduli jika kamu menjawab “karena terpaksa!” Otakmu sudah disetir dajjal! Sikap manusiamu terlalu mendewa-dewakan harta! Kau telah masuk ke surga dajjal mas! Ingat, surga dajjal adalah neraka bagi kita mas! Ingat!”
Sudah! Tak ada gunanya aku menasihatinya, dia lebih tua dariku. Seharusnya dia lebih tau! Aku juga yakin dia mengerti apa itu hadd syariq, -hukum dipotong tangan bagi seorang muslim ketika mencuri- memang, manusia jika dibiarkan akan semakin menjadi-jadi. Maka hadd semacam itu pantas untuk di tata tertibkan! Sayang, indonesia bukan negara islam. Segala sesuatunya harus diselesaikan melalui ranah hukum, meski hukum di negara ini begitu Munafik!
***
Dua-Tiga minggu berselang, aku baru datang ke rumah Salman bersamaan dengan mobil ambulan yang mengantarkan jenazah Kakek. Semua khidmat, tak satupun berani tertawa terbahak karena Kakek begitu dituakan di kampung Salman. Lanjut, ketika baiat talqin usai di ucapkan kyai Manshur; aku mengurut dada karena Salman tak kunjung datang. Kabar dari pakdhe mengatakan “bahwa Salman sudah empat hari tak dirumah semenjak memaksa Pakdhe membeli Suzuki Satria” padahal aku yakin, bahwasanya Salman belum begitu lihai menetralkan kompling motor prakarsa China itu. Aku harus bagaimana?
Tiga-Empat hari aku cari kabar tentang Salman. Benar dugaan kalau Salman ada di bawah pimpinan Suryo; preman pasar yang selalu membuat onar. Baiknya, Salman bukan terjerumus sebagai preman pasar, melainkan sebagai pembalap liar. Walaupun Liar, namun aku patut tersenyum, karena memang sejak kecil Salman mengidolakan Valentino Rossi. Tapi jalan umum bukanlah tempat bagi pembakat mesin, semua ada caranya! Semua ada tempatnya! Dzalim, jika tidak meletakkan sesuatu pada tempatnya!
Selanjutnya, Lima-Enam hari sekali Salman pulang untuk sekedar mengantungi Tujuh-Delapan grendel rupiah bergambar Gedung Dewan Perwakilan Rakyat. “wow,.,” Ironis, berbelas kasihankah Salman pada orang tuanya; yang seharian membanting tulang untuknya?
 “ini sungguh kelewatan...! Apalah arti harta melimpah, jika anak kami berperilaku tak jauh seperti malin kundang Pak yai?” mata pakdhe berkaca-kaca. Namun Kyai Manshur hanya mengangguk tak berkata. Dalam hati aku bertanya “Sudahkah anda mendidik anak anda dengan benar?”
***
Aku ingat apa pesan Kakek sebelum wafat; “jika kalian baik, maka kalian akan dibalas dengan kebaikan. Jika kalian patuh, maka kalian akan dipatuhi. Jika kalian tidak menyusahkan, makan kalian akan banyak mendapat kemudahan. Hafalkan! Kamaa Tadinuu Tudanuu. Man Khodama Khudima. Camkan itu!” Kakek menunjuk-nunjuk aku dan Salman ketika itu. Aku percaya, mungkin semua ini tak jauh dari sumbernya. Bukan aku memvonis! Namun kata pepatah juga jelas, “Daun Jatuh, Tak Jauh dari Pohonnya” Yah, begitulah.
Kusulut lintingan tembakau untuk kali kedua, nampaknya kambing-kambingku sudah cukup kenyang. Aku tahu, Waktuku pulang sudah tiba...

Diselesaikan Dengan Berbagai ‘kenangan’ Dan ‘perhatian’
Surabaya, 2  Juli 2011 M


===========================================
*( Penulis Adalah Anggota Komunitas matapena Jogja
. Lahir di ‘Panti’wilasa, Beralamat di bondanpahme@gmail.com
===========================================

Tidak ada komentar: